ONLINEBerita terkini. Ringkas. Relevan.
BREAKING
Perkara Lahan Rumbai Berakhir di Meja Perdamaian, Proses Penyidikan Klien TAPAK Riau DihentikanPria 32 Tahun Diamankan Polisi, Empat Paket Diduga Sabu Ditemukan di Kebun SawitDiduga Terlibat Persoalan Rumah Tangga, UJ Berakhir di Mapolsek Dumai BaratSuper 21 Ekspansi ke KTV, Status Perizinan Menggantung Jelang Grand OpeningRelokasi Pedagang ke TBG, Jalan HR Soebrantas Tetap Lancar Aktivitas UMKM BerjalanJika Live DJ di Luar Izin, Siapa yang Bertindak? Satpol PP Dumai Kini Jadi SorotanKujira Pub & KTV Kembali Jadi Sorotan, Aturan Jam Operasional DipertanyakanMotor Pelajar Dicuri Saat Parkir, Unit Reskrim Polsek Bukit Kapur BertindakPolres Dumai Musnahkan Narkotika, Diperkirakan Selamatkan 25.046 JiwaIzin Super 21 Club Dumai Jadi Tanda Tanya, Pemko Diminta Tegaskan Status Live Performance DJ

Daratan Mundam Terus Terkikis,

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah

Warga Dihantui Ancaman Kehilangan Rumah
Kondisi bibir pantai di sepanjang di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai (f: tim) 

jejakredaksi.com — Ancaman bencana abrasi (pengikisan) air laut di wilayah Kelurahan Mundam kian mengkhawatirkan. Laju penggerusan daratan oleh gelombang laut dilaporkan semakin masif dan kini telah mendekati badan jalan bawah yang menjadi akses utama masyarakat di kawasan permukiman tersebut.

Kondisi ini menimbulkan kecemasan mendalam bagi ratusan warga setempat. Mereka khawatir tidak hanya kehilangan lahan tempat tinggal, tetapi juga terputusnya akses transportasi yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, gelombang laut yang terus menghantam garis pantai tidak hanya mengikis bibir pantai, tetapi juga telah menelan sejumlah lahan produktif milik warga. Area yang sebelumnya berupa daratan dan perkebunan kini berubah menjadi perairan akibat abrasi yang terjadi secara terus-menerus tanpa penanganan permanen.

Perwakilan masyarakat, Dato' Junaidi dari KKSI (Kekerabatan Kesultanan Siak Sri Indrapura), mengungkapkan bahwa laju abrasi dalam beberapa waktu terakhir meningkat signifikan.

“Tanah warga sudah banyak yang hilang tergerus air laut. Jika tidak segera ditangani, jalan bawah ini tinggal menunggu waktu untuk ambles dan terputus,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Masyarakat Mundam pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Mereka mendesak agar langkah konkret segera diambil guna mencegah kerusakan yang lebih luas.

Sejumlah upaya penanganan yang dinilai mendesak antara lain pembangunan tanggul atau pemecah gelombang (breakwater) untuk meredam energi ombak sebelum menghantam daratan, rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai penahan alami abrasi, serta pemasangan bronjong atau batu gajah di titik-titik kritis yang berbatasan langsung dengan badan jalan.

Warga menilai, tanpa intervensi cepat dari instansi terkait, abrasi berpotensi semakin meluas dan tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga memutus akses mobilitas serta menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

Penulis: Bambang/ Irwan